Ideologi Politik dan Idealisme - Munawir.Net - Catatan Opini dan Sharing Berbagai News, Tips dan Trik.

Ideologi Politik dan Idealisme



Assalamu'alaikum Warahmatullahi'Wabarakaatuh,

"Nawir percuma ngana ba jenggot tapi ngana ba caleg di Partai Solidaritas Indonesia" begitu suara sumbang yang ku dengar dengan dialeg lokal di sela-sela kesibukanku saat sosialisasi ketengah-tengah masyarakat yang ada didapilku pada Pemilu April 2018 lalu. pernyataan muncul saat DPP PSI lagi gencar gencarnya beriklan ditelevisi nasional dan banyaknya kontroversi yang dipajang dimedia online atau televisi. Selain pernyataan di atas ada juga yang menyayangkan saya berada di PSI hanya  ketua Umum Partai Solidaritas Indoneasia Grace Natalie seorang non muslim. 

Partai, Saya kira hanyalah sebuah kendaraan politik untuk menuju suatu tujuan. Saya memisalkan pemilik kapal rute ampana - wakai adalah seorang non muslim, Begitu pula dengan partai. Mungkin ada yang bertanya "kenapa tidak naik kapal yang lain? " , Saya jawabNya Kapal kapal lain banyak bekas tambalannya.

tapi saya merasa berterima kasih andai pernyataan itu bentuk perhatian mereka kepadaku. Namun saya meyakini disini ketika saya bisa berbuat baik dan berjuang untuk kepentingan masyarakak (baca: muammalah) maka sejatinya itu yang harus saya jalani. 

Dalam ilmu sosial, Ideologi politik adalah sebuah himpunan ide dan prinsip yang menjelaskan bagaimana seharusnya masyarakat bekerja, dan menawarkan ringkasan order masyarakat tertentu. Ideologi politik biasanya mengenai dirinya dengan bagaimana mengatur kekuasaan dan bagaimana seharusnya dilaksanakan.

Sedangkan Idealisme adalah suatu keyakinan atas suatu hal yang dianggap benar oleh individu yang bersangkutan dengan bersumber dari pengalaman, pendidikan, kultur budaya dan kebiasaan. Idealisme tumbuh secara perlahan dalam jiwa seseorang, dan termanifestasikan dalam bentuk perilaku, sikap, ide ataupun cara berpikir.

Dari pengertian diatas idiologi politik dan Idealisme bisa saja sejalan atau bahkan bertentangan. Jika sejalan maka totalitas akan nampak dalam perjuangan politik itu sendiri. Jikalau tidak sejalan maka berdampak pada Kebijakan-kebijakan yang mungkin menyesuaikan dengan tujuan politik itu sendiri tanpa mengorbankan idealisme yang terlalu jauh (menurut saya). Karenanya politik adalah seni maka setidaknya kita bisa bekerja dengan nilai-nilai kebenaran yang bersifat universal. 


Menurut para pemikir, prasyarat politik adalah kualitas moral yang harus dimiliki oleh pelaku politik di samping kompetensi dan profesionalitas. Artinya, bila para politisi tidak bermoral dan tidak memiliki kapasitas intelektual, mana mungkin mereka bisa mendidik dan mendesain masyarakat agar hidup dan berkembang menjadi masyarakat yang beradab.

Maka dari itu saya tegaskan ketika penampilanku menjadi sebab untuk dilemahkan dan dijadikan kampanye hitam dikonstituenku saya kira anda terlalu naif kawan. Padahal mereka tidak mengkritik dari segi Moral. Saya menganggap itu sebagai kampanye hitam karena jika di telusuri ternyata yang berkata adalah orang-orang yang punya seorang calon yang dijagokan, padahal calon itu berasal dari partai yang notabene menghasilkan dan menampung calon yang terpidana terkorupsi.  Lalu kenapa ia tidak mempermasalahkan partainya yang  menampung dan menghasilkan koruptor itu,  sementara partai PSI satu-satunya tidak mencalonkan mantan kotuptor. OK fine lah saya sadar betul bahwa realitanya  dunia politik dimana kawan bisa menjadi lawan bahkan keluarga bisa menjadi lawan.

Sekian. Terima Kasih 








Baca Juga :

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel





Iklan Tengah Artikel 1





Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel