Carilah ilmu, Keterampilan dan Soft Skill - Munawir.Net - Catatan Opini dan Sharing Berbagai News, Tips dan Trik.

Carilah ilmu, Keterampilan dan Soft Skill

Carilah ilmu, Keterampilan dan Soft Skill - Tuntutlah ilmu sampi ke negeri china


Tuntutlah ilmu sampi ke negeri china, saya yakin kalimat itu sudah tidak asing lagi di telinga para pembaca sekalian.

Nutrisi Tubuh

Bayangkan kita lahir dengan sempurna, lebih sempurna dari pada hewan, iblis, hantu, malaikat sekalipun dan segala makhluk hidup lainnya. Kita punya kepala dan didalamnya ada otak. Nutrisi otak adalah ilmu perlu ada cara untuk memperoleh ilmu secara baik dan efisien.
Kita punya telinga, menerima pendengaran, namun memerlukan keterampilan mendengar agar lebih tepat dan sampai dengan baik.
Kita memiliki hati dan kalbu. Nutrisi hati dan kalbu adalah soft skill yang dicontoh dari pendidik, orang tua, teman, dan dari interaksi dengan orang-orang sekitar serta lebih khusus lagi tentunya rasullullah, sebagai bench marking untuk keterampilan hati.


وَٱللَّهُ أَخۡرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ شَيۡ‍ٔٗا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ وَٱلۡأَفۡ‍ِٔدَةَ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ 

“ Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur ” ( Q.S An-Nahl : 78 )

Kita juga memiliki tubuh. Tubuh yang sehat juga memerlukan keterampilan fisik agar endurancenya kuat dan tangguh dalam bekerja. Maka keterampilan kinetik menjadi pelengkap dan penting. Baik otak, telinga, hati, kalbu dan jaringan tulang, darah, dan seluruh organ tubuh selalu bertawaf dan memerlukan hubungan-hubungan baik dengan sang penciptanya. Sel-sel itu berhak juga mendapatkan nutrisi melalui hubungan antara keputusan akal, dengan hati dan dengan sang pencipta. Gabungan keseluruhan organ beserta nutrisinya, melahirkan sebuah sosok yang berarti tidak menyalahi kodrat, begitu sebaliknya.


Sasaran-Sasaran

Apa saja sebenarnya yang dihasilkan melalui pendidikan ?. sebuah pertanyaan lama namun jawabannya masih banyak diantara kita yang masih belum persis memahaminya atau mungkin belum disadari sebenar-benarnya.
Dalam perjalanan waktu, belajar sering dikonotasi hanya untuk memenuhi salah satu ranah atau tambahan stock modal yang dimiliki oleh manusia. Semakin terdidik biasanya semakin lebih baik. Tetapi pada suatu kondisi dimana kita harus menghadapi kenyataan, disamping ilmu ada aspek yang lain membuat seseorang sukses; misalnya bakat dan keterampilan, atau dimensi lain seperti kemampuan berkomunikasi, kepemimpinan yang baik, berani mengambil resiko, takwa ibadah dan berdzikir, dan berbagai bentuk perbuatan lainnya.
Kenapa kadang banyak diantara kita khawatir tidak masuk di pendidikan umum. Ketakutan anak-anak tidak menjadi sarjana. Kekhawatiran itu tidak masuk akal. Mengingat hasil kajian bahwa 90% dari orang kaya didunia bahkan tidak mengenyam pendidikan tinggi. Lalu apa saja yang diperoleh dari mengikuti pendidikan ?. dapat disimpulkan bahwa kita terjebak hanya mengetahui ranah ilmu kognitif, keterampilan psikomotorik dan sikap afektif, lebih dilihat dalam kontek kepentingan duniawi semata. Karena memang UNESCO dalam laporannya melihat hasil pendidikan itu untuk maksud learn to know, learn to be, learn to do, dan laern to life together. Sehingga hal itu menjadi pegangan dalam menyusun kurikulum pendidikan tinggi di indonesia. Dan memang itu yang memang sedah kita pahami sebagai pembenaran, yang seharusnya kita lengkapi dengan hubungan ketaatan dengan Sang Pencipta.

Intelektual / Ilmu

Ilmu jelas dapat diperoleh memalui buku, literatur, hadist dan Al-Qur’an kemudian diajarkan oleh guru/dosen melalui penyampaian dan membaca sumber-sumber yang membuat pendalaman terjadi. Semakin berilmu maka semakin luas pandangan kita. Kemudian ilmu yang luas menjadikan kita mudah secara sistematis memecahkan persoalan yang kita hadapi sehari-hari. Semakin berilmu akan menyebabkan kita mengoptimalkan akal, karena akal kita akan semakin sehat. Akal yang berilmu diharapkan akan menyebabkan kita semakin kreatif. Namun proses kreatif akan lahir ketika kita terbiasa pada pemecahan persoalan, melalui identifikasi masalah dilapangan dan serta mengambil alternatif solutif yang cepat serta tepat. Oleh karenanya menyehatkan akal dilakukan dengan ilmu. Proses menuntut ilmu adalah proses untuk mencapai kesehatan akal dan otak. Pada tahap ini proses memperolehnya melalui belajar, membaca, dan menulis serta mendengar dan melihat. Susuatu yang tidak sulit untuk dikerjakan namun membutuhkan keuletan dan ketabahan dalam menjalankannya.


Lalu sampai seberapa jauh kita menuntut ilmu, dan sampai seberapa pula keterkaitannya ilmu itu dapat menuntun kita dalam hidup. Para filosof bahkan menyatakan menuntut ilmu itu merupakan proses membuat seseorang untuk mengenal nilai-nilai universal. Sehingga dengan ilmu orang akan semakin mudah bersikap obyektif dalam memahami sebuah persoalan. Mana boleh dan mana yang tidak boleh. Dengan demikian semakin tinggi ilmu seseorang maka semakin tinggi pula derajat persoalan yang dihadapi dan dipecahkan. Kompleksitas keduniawian yang tinggi dapat disistematiskan melalui ilmu. Yang ruwet menajdi mudah. Oleh karenanya orang yang berilmu tinggi tidak berkaitan langsung dengan pekerjaannya. Kecuali kepada bidang-bidang yang terspesialisasi.




Masih Berlanjut karena kadang kata2 itu lewat saat saat tertentu saja maka saya mengingkatnya dengan notes online ini...................





Baca Juga :

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel





Iklan Tengah Artikel 1





Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel